Di koridor senyap aku menunggu

posted in: Puisi | 0

aku hujamkan sembilu itu menembus malam
gulitanya menamprat semilir
terpongoh aku meniti detak hitungan kala
dalam semilir hanya ada bayangan
mengajak kalbu menarikan balada
diberanda kesenyapan ada teguran lirih
aku disapa keraguan:
haruskah melati gugur tanpa berita?
sayang potretmu menebar senyum
terlampau manis
dan aku berdiri disisinya
entah siluet
entah ketegaran
entah kiasan
entah sejati
entah batu
entah bayu
entah entah
diujung koridor menunggu
lembaran cerita mentari ufuk
tertatih kukejar bayangan itu
dengan sumpah setia:
bagimu iching kurangkai simfoni abadi
tak luntur oleh waktu
tak pudar oleh gulita
tak gentar oleh kecewa
tak padam oleh khianat
aku hujamkan sembilu itu menembus malam
semilir gulita tak sanggup berkata

(LP Manado, pada 24 juli 1999)

( ICHING – Nama itu yang pernah mampir dan pergi )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *