Tampurung

posted in: Puisi | 0

“Kulukis badanku dengan tato bagai selembar kanvas dengan lukisan abstrak. Kusilet tubuhku lebar-lebar dan terciptalah kalat bersaf-saf, Kuhiasi bibirku dengan segala umpatan, tanganku dengan tinju, kakiku dengan terjangan, lalu aku dapat titel preman, dan menyandang gelar tampurung.  Aku menari di suatu malam, di kompleks Rumah Sakit Malalayang dengan seujung gelang besi putih yang kuhujamkan dua puluh delapan kali di tubuh seorang lelaki yang juga ku keroyok bersama dua temanku. Aku mendapat imbalan enam butir timah panas. Dan kugemakan dengan serapah Pengadilan Negeri Manado ketika vonis menghukum aku enam bulan penjara” – Ketika diteriakkan dimanakah keadilan, sebenarnya kita mengejek diri sendiri, sebab keadilan hanya secuil jauh dari nurani. Dan kita terlalu malas menyapanya ketika emosi naik ke ubun-ubun. ( LP Manado 24/7/99 )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *