Tradisi yang Mengakar

posted in: Diary | 0

Ini adalah adegan ke IV pada performance Tari Kecak yang dibawakan Sanggar Tari dan Tabuh Karang Boma Desa Pecatu di Uluwatu, yang menampilkan adegan Hanoman (si Kera Putih) membawa pesan Rama kepada Sita. Tari Kecak yang dipentaskan jelang matahari terbenam itu sendiri terdiri dari 4 babak, dan berlangsung selama sejam.

Hitungan kasar saya, ada lebih seribu orang menonton sajian tari kecak di arena yang sudah disiapkan dengan latar sunset. Sejam sebelum loket dibuka, wisatawan (terbanyak wisatawan mancanegara), sudah mengantri membentuk barisan panjang. Tepat pukul 17.00 sebagaimana tertera di papan pemberitahuan, loket pun dibuka. Wisatawan lokal membayar tiket masuk seharga Rp 100 ribu, dan turis asing lebih mahal dari itu.

Pentas sendiri berlangsung pada pukul 18.00 tepat, saat langit memerah dengan gradasi khas matahari terbenam. Ribuan penonton tertib pada tempat duduknya, dan petugas yang merupakan bagian dari komunitas dan desa adat itu mempersilahkan pengunjung duduk tanpa melihat status dan asalnya.

Sambil memotret, saya mengagumi seni tradisi dan budaya yang tersaji. Ribuan yang antri dan duduk tertib itu rela membayar harga tiket sebesar itu hanya untuk menonton sebuah pentas tari. Jika hitungan kasar saya saja ada seribu penonton, berarti pemasukan pada pentas itu diatas Rp 100 juta. Dan pentas kecak itu, digelar saban hari.

Tak hanya di Uluwatu, pentas kecak juga bisa dijumpai di komplek Garuda Wisnu Kencana dan Tanah Lot. Di sana, wisatawan juga harus membayar tiket masuk untuk bisa menyaksikan salah satu atraksi seni budaya Bali.

Inilah, salah satu kekuatan pariwisata di Bali. Orang yang datang ke Bali, tak hanya disuguhi keindahan panorama alam serta berbagai atraksi wisata, tetapi juga menjumpai tradisi dan budaya yang mengakar. Bukan tradisi dan budaya yang harus diminta untuk dipentaskan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *