Totara

posted in: Puisi | 0

Begitu palu menvonis dirinya setahun penjara, seribu sumpah serapah menggema dari balik sel pengadilan: “tunggu kalau aku keluar nanti, akan ku bunuh polisi, tentara, jaksa, hakim, presiden dan juga tuhan.” Padahal yang dihantamnya kepala bapaknya. Dengan Totara. LP Manado, 25/7/99 … Continued

Mimbar

posted in: Puisi | 0

Seolah tanpa dosa khadim itu berkoar tentang segala yang diilhamkan Allah pada sabdaNya sambil mengacung-acungkan  tangan ke udara dan dengan mulut berbusa mengiyakan semua realita yang terkurung dalam tembok penjara sebagai suatu kebahagiaan. – Aku lalu bertanya: kemeja putih warna apa?” … Continued

Sakit

posted in: Puisi | 0

Kulepas alas kakiku menginjak bersihnya tegel poliklinik, duduk sopan mengambil kartu, mengintip sedikit di tempat tidur ruang pemeriksaan yang mulus, tangan melilit pada perut meringis setelah semalam dan tadi pagi berak-berak dan muntah-muntah, menatap penuh harap pada dokter yang mengambil … Continued

Ompreng

posted in: Puisi | 0

Nasi setakaran genggam tangan dihiasi gabah, batu, dan hanya dicuci sekali; kangkung karate atau akar kuning tak dikupas atau kol diiris dengan ikatannya direbus tanpa garam; ikan asin yang hanya diasapi atau sepotong daging selembut ban mobil atau enam butir … Continued

Di koridor senyap aku menunggu

posted in: Puisi | 0

aku hujamkan sembilu itu menembus malamgulitanya menamprat semilirterpongoh aku meniti detak hitungan kaladalam semilir hanya ada bayanganmengajak kalbu menarikan baladadiberanda kesenyapan ada teguran lirihaku disapa keraguan:haruskah melati gugur tanpa berita?sayang potretmu menebar senyumterlampau manisdan aku berdiri disisinyaentah siluetentah ketegaranentah kiasanentah … Continued

Tampurung

posted in: Puisi | 0

“Kulukis badanku dengan tato bagai selembar kanvas dengan lukisan abstrak. Kusilet tubuhku lebar-lebar dan terciptalah kalat bersaf-saf, Kuhiasi bibirku dengan segala umpatan, tanganku dengan tinju, kakiku dengan terjangan, lalu aku dapat titel preman, dan menyandang gelar tampurung.  Aku menari di suatu malam, di … Continued

Awas kau

posted in: Puisi | 0

Aku benci dia. Ingin kutinju. Ingin kutendang, ku tempeleng atau kumaki-maki, sayang aku takut cambukan dan ngeri di karantina. Tidurnya disampingku. Aku akan bermimpi sebentar malam, berkelahi dan akan ku tinju mukanya. Tapi tengah malam, ia bermimpi terlebih dahulu dan … Continued

Pin It on Pinterest